CANDA TAWA CANDI BOKO
Alamat: Jalan Raya
Jogja-Solo, Prambanan, Yogyakarta, Indonesia
Phone: (0274) 496 510
Phone: (0274) 496 510
Koordinat
GPS: S7°46'17.9" E110°29'24.9" (lihat
peta)
Foto: Ahmad
Istana Ratu Boko adalah kompleks Istana megah yang dibangun pada abad
ke-8. Bangunan yang bisa dikatakan termegah di zamannya itu dibangun oleh salah
satu kerabat pendiri Borobudur. Istana Ratu Boko adalah sebuah bangunan
megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu
keturunan Wangsa Syailendra. Istana yang awalnya bernama Abhayagiri
Vihara (berarti biara di bukit yang penuh kedamaian) ini didirikan
untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Berada di
istana ini, anda bisa merasakan kedamaian sekaligus melihat pemandangan kota
Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar Gunung Merapi.
Foto: Ahmad
Istana ini terletak di 196 meter di atas permukaan laut. Areal istana
seluas 250.000 m2 terbagi menjadi empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur.
Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran,
kolam, batu berumpak, dan Paseban. Sementara, bagian tenggara meliputi Pendopo,
Balai-Balai, 3 candi, kolam, dan kompleks Keputren. Kompleks gua, Stupa Budha,
dan kolam terdapat di bagian timur. Sedangkan bagian barat hanya terdiri atas
perbukitan.
Foto: Ahmad
Bila masuk dari pintu gerbang istana, anda akan langsung menuju ke
bagian tengah. Dua buah gapura tinggi akan menyambut anda. Gapura pertama
memiliki 3 pintu sementara gapura kedua memiliki 5 pintu. Bila anda cermat,
pada gapura pertama akan ditemukan tulisan 'Panabwara'. Kata itu, berdasarkan
prasasti Wanua Tengah III, dituliskan oleh Rakai Panabwara, (keturunan Rakai Panangkaran)
yang mengambil alih istana. Tujuan penulisan namanya adalah untuk melegitimasi
kekuasaan, memberi 'kekuatan' sehingga lebih agung dan memberi tanda bahwa
bangunan itu adalah bangunan utama.
Foto: Ahmad
Sekitar 45 meter dari gapura kedua, anda akan menemui bangunan candi
yang berbahan dasar batu putih sehingga disebut Candi Batu Putih. Tak jauh dari
situ, akan ditemukan pula Candi Pembakaran. Candi itu berbentuk bujur sangkar
(26 meter x 26 meter) dan memiliki 2 teras. Sesuai namanya, candi itu digunakan
untuk pembakaran jenasah. Selain kedua candi itu, sebuah batu bertumpuk dan
kolam akan ditemui kemudian bila anda berjalan kurang lebih 10 meter dari Candi
Pembakaran.
Foto: Ahmad
Sumur penuh misteri akan ditemui bila berjalan ke arah tenggara dari
Candi Pembakaran. Konon, sumur tersebut bernama Amerta Mantana yang berarti air
suci yang diberikan mantra. Kini, airnya pun masih sering dipakai. Masyarakat
setempat mengatakan, air sumur itu dapat membawa keberuntungan bagi pemakainya.
Sementara orang-orang Hindu menggunakannya untuk Upacara Tawur agung sehari
sebelum Nyepi. Penggunaan air dalam upacara diyakini dapat mendukung tujuannya,
yaitu untuk memurnikan diri kembali serta mengembalikan bumi dan isinya pada
harmoni awalnya. Saya menyarankan anda berkunjung ke Candi Prambanan sehari
sebelum Nyepi jika ingin melihat proses upacaranya.
Foto: Ahmad
Melangkah ke bagian timur
istana, anda akan menjumpai dua buah gua, kolam besar berukuran 20 meter x 50
meter dan stupa Budha yang terlihat tenang. Dua buah gua itu terbentuk dari
batuan sedimen yang disebut Breksi Pumis. Gua yang berada lebih atas dinamakan
Gua Lanang sedangkan yang berada di bawah disebut Gua Wadon. Persis di muka Gua
Lanang terdapat sebuah kolam dan tiga stupa. Berdasarkan sebuah penelitian,
diketahui bahwa stupa itu merupakan Aksobya, salah satu Pantheon Budha.
Foto: Ahmad
"Om Rudra ya
namah swaha" sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra yang
merupakan nama lain Dewa Siwa. Adanya unsur-unsur Hindu itu membuktikan adanya
toleransi umat beragama yang tercermin dalam karya arsitektural. Memang, saat
itu Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha hidup berdampingan dengan
para pengikut Hindu.
Foto: Ahmad
Sedikitnya yang saya tahu bahwa istana ini adalah saksi bisu awal kejayaan di Tanah Sumatera. Balaputradewa sempat melarikan diri ke Istana ini sebelum Sumatera ketika diserang oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa memberontak karena merasa sebagai orang nomer dua di Kerajaan Mataram Kuno akibat pernikahan Rakai Pikatan dengan Pramudhawardani (saudara Balaputradewa. Setelah Ia kalah dan melarikan diri ke Sumatera, barulah Ia menjadi Raja di Kerajaan Sriwijaya).
Foto: Ahmad
Sebagai sebuah bangunan peninggalan sejarah, Istana Ratu Boko ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan peninggalan lain. Jika bangunan lain umumnya berupa candi atau kuil, maka sesuai namanya istana ini menunjukan ciri-ciri sebagai tempat tinggal. Itu terlihat dari adanya bangunan berupa tiang dan atap yang terbuat dari bahan kayu, meski kini yang tertinggal hanya batur-batur dari dari batu saja. Telusuri istana ini, maka kalian akan mendapatkan lebih banyak lagi, salah satunya pemandangan di kala senja yang sangat indah. Agus Suryono berkata, "inilah salah satu senja terindah di kota Yogyakarta."
Foto: Raihan
Foto: Ahmad
Foto: Aurel
Foto: Aurel
Photografer: Ahmad, Raihan, dan Aurel
Naskah: Agus Suryono, S.Pd.T.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar