Rabu, 26 November 2014

CANDI KALASAN - YOGYAKARTA


Candi Kalasan terletak di Desa Kalibening, Tirtamani, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya sekitar 16 km ke arah timur dari kota Yogyakarta. Dalam Prasasti Kalasan dikatakan bahwa candi ini disebut juga Candi Kalibening, sesuai dengan nama desa tempat candi tersebut berada. Tidak jauh dari Candi Kalasan terdapat sebuah candi yang bernama Candi Sari. Kedua candi tersebut memiliki kemiripan dalam keindahan bangunan serta kehalusan pahatannya. Ciri khas lain yang hanya ditemui pada kedua candi itu ialah digunakannya vajralepa (bajralepa) untuk melapisi ornamen-ornamen dan relief pada dinding luarnya.

 Photographer: Arok Guetta

Umumnya sebuah candi dibangun oleh raja atau penguasa kerajaan pada masanya untuk berbagai kepentingan, misalnya untuk tempat ibadah, tempat tinggal bagi biarawan, pusat kerajaan atau tempat dilangsungkannya kegiatan belajar-mengajar agama. Keterangan mengenai Candi Kalasan dimuat dalam Prasasti Kalasan yang ditulis pada tahun Saka 700 (778 M). Prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Sanskerta menggunakan huruf pranagari. Dalam Prasasti Kalasan diterangkan bahwa para penasehat keagamaan Wangsa Syailendra telah menyarankan agar Maharaja Tejapurnama Panangkarana mendirikan bangunan suci untuk memuja Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta Buddha. Menurut prasasti Raja Balitung (907 M), yang dimaksud dengan Tejapurnama Panangkarana adalah Rakai Panangkaran, putra Raja Sanjaya dari Kerajaan Mataram Hindu.

Photographer: Arok Guetta

Rakai Panangkaran kemudian menjadi raja Kerajaan Mataram Hindu yang kedua. Selama kurun waktu 750-850 M kawasan utara Jawa Tengah dikuasai oleh raja-raja dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu dan memuja Syiwa. Hal itu terlihat dari karakter candi-candi yang dibangun di daerah tersebut. Selama kurun waktu yang sama Wangsa Syailendra yang beragama Buddha aliran Mahayana yang sudah condong ke aliran Tantryana berkuasa di bagian selatan Jawa Tengah. Pembagian kekuasaan tersebut berpengaruh kepada karakter candi-candi yang dibangun di wilayah masing-masing pada masa itu. Kedua Wangsa tersebut akhirnya dipersatukan melalui pernikahan Rakai Pikatan Pikatan (838 - 851 M) dengan Pramodawardhani, Putra Maharaja Samarattungga dari Wangsa Syailendra.

Photographer: Arok Guetta

Untuk membangun bangunan suci bagi Dewi Tara, Rakai Panangkaran menganugerahkan Desa Kalasan dan untuk membangun biara yang diminta para pendeta Buddha. Diperkirakan bahwa candi yang dibangun untuk memuja Dewi Tara adalah Candi Kalasan, karena di dalam candi ini semula terdapat patung Dewi Tara, walaupun patung itu sudah tidak berada di tempatnya. Sementara itu, yang dimaksud dengan biara tempat para pendeta Buddha, menurut dugaan, adalah Candi Sari yang memang letaknya tidak jauh dari Candi Kalasan. Berdasarkan tahun penulisan Prasasti Kalasan itulah diperkirakan bahwa tahun 778 Masehi merupakan tahun didirikannya Candi Kalasan.

Photographer: Arok Guetta

Menurut pendapat beberapa ahli purbakala, Candi kalasan ini telah mengalami tiga kali pemugaran. Sebagai bukti, terlihat adanya 4 sudut kaki candi dengan bagian yang menonjol. Selain itu yang terdapat torehan yang dibuat untuk keperluan pemugaran pada tahun 1927 sampai dengan 1929 oleh Van Romondt, seorang arkeolog Belanda. Sampai saat ini Candi Kalasan masih digunakan sebagai tempat pemujaan bagi penganut ajaran Buddha, terutama aliran Buddha Tantrayana dan pemuja Dewi Tara.

Photographer: Arok Guetta

Bangunan candi diperkirakan berada pada ketinggian sekitar duapuluh meter diatas permukaan tanah, sehingga tinggi keseluruhan bangunan candi mencapai 34 m. Candi Kalasan berdiri diatas alas berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 45x45 m yang membentuk selasar di sekeliling candi. Di setiap sisi terdapat tangga naik ke emperan candi yang dihiasi sepasang kepala naga pada kakinya. Di hadapan anak tangga terbawah terdapat hamparan lantai dari susunan batu. Di depannya kaki tangga dipasang lempengan batu yang tipis dan halus dengan bentuk berlekuk-lekuk.

Photographer: Arok Guetta

Bangunan candi secara keseluruhan berbentuk empat persegi panjang berukuran 34x 45 m, terdiri atas ruang utama yang berbentuk bujur sangkar dan bilik-bilik yang menjorok keluar di tengah keempat sisinya. Dinding di sekeliling kaki candi dihiasi dengan pahatan bermotif kumuda, yaitu daun kalpataru yang keluar dari sebuah jambangan bulat.

Candi Kalasan memiliki 4 buah pintu yang terletak di keempat sisi, namun hanya pintu di sisi timur dan barat yang mempunyai tangga untuk mencapai pintu dan hanya pintu di sisi timur yang merupakan pintu masuk ke ruang utama di tengah candi. Dilihat dari letak pintu utamanya tersebut dapat dikatakan bahwa Candi Kalasan menghadap ke timur. Di sepanjang dinding candi terdapat cekungan-cekungan yang berisis berbagai arca, walaupun tidak semua arca masih berada di tempatnya. Diatas semua pintu dan cekungan selalu dihiasi dengan pahatan bermotif Kala. Tepat di atas ambang pintu, di bawah pahatan Kalamakara, terdapat hiasan kecil berupa wanita bersila memegang benda di kedua belah tangannya. Relung-relung di sisi kiri dan kanan atas pintu candi dihiasi dengan sosok dewa dalam posisi berdiri memegang bunga teratai.

Photographer: Arok Guetta

 Bagian atas tubuh candi berbentuk kubus yang melambangkan puncak Meru, dikelilingi oleh 52 stupa setinggi, rata-rata, 4,60 m.Sepanjang batas antara atap dan tubuh candi dihiasi dengan deretan makhluk kerdil yang disebut Gana.


Atap candi ini berbentuk segi delapan dan bertingkat dua. Tingkat pertama dihiasi dengan relung-relung berisi arca Budha Manusi Budha, sedangkan tingkat ke dua dihiasi dengan relung-relung berisi arca Dhayani Budha. Puncak candi sesungguhnya berbentuk stupa, tetapi sampai saat ini belum berhasil direkonstruksi kembali karena banyak batu asli yang tidak di temukan. Bila dilihat dari dalam, puncak atap terlihat seperti rongga dari susunan lingkaran dari batu yang semakin ke atas semakin menyempit.

Photographer: Arok Guetta

Ruang utama candi berbentuk bujur sangkar dan mempunyai pintu masuk di sisi timur. Di dalam ruangan tersebut terdapat susunan batu bertingkat yang dahulu merupakan tempat meletakkan patung Dewi Tara. Diperkirakan bahwa patung tersebut terbuat dari perunggu setinggi sekitar enam meter. Menempel pada dinding barat, di belakang susunan batu tersebut terdapat semacam altar pemujaan. Masuk ke candi ini tidak dipungut biaya, alias gratis. Hanya di kenakan biaya parkir sebesar Rp 2.000,00.

Sumber: candi.pnri.go.id/temples/deskripsi-yogyakarta-candi_kalasan

Minggu, 02 November 2014

PESONA KEINDAHAN AIR TERJUN TAWANGMANGU - KARANGANYAR

Air terjun Grojogan Sewu terletak di Tawangmangu suatu kawasan sebelah barat lereng gunung Lawu dengan ketingggian 1.305 m, berudara segar banyak terdapat villa dan penginapan. Tawangmangu dapat dicapai dari kota Solo dengan menggunakan bus jurusan Solo - Tawangmangu. Atau dengan menggunakan sepeda motor.

Photographer: Indah Nh

Meski berada di garis ekuator dengan suhu udara panas dan lembab, Indonesia dianugerahi dengan banyak pegunungan yang menawarkan kesejukan. Salah satunya adalah Tawangmangu, kurang lebih 37 km sebelah timur Solo. Meskipun terletak di lereng gunung, kawasan wisata ini termasuk salah satu yang paling mudah untuk dikunjungi. Angkutan bus umum hampir setiap saat siap mengantar para wisatawan sampai ke terminal utama. Perjalanan darat selama kurang lebih 1,5 jam dari terminal Solo sudah menjadi daya tarik tersendiri. Pemandangan indah areal persawahan di kiri dan kanan jalan siap menyapa begitu memasuki wilayah Karanganyar.

Photographer: Indah Nh


Suasana pagi Tawangmangu sangat indah dan eksotik. Udara dingin khas pegunungan dan kabut dari puncak gunung yang menyelimuti memberikan aura keindahan tersendiri. Berjalan-jalan sambil menikmati indahnya areal persawahan, melihat aktivitas penduduk di pagi hari, ataupun menjelajahi pasar sangat manjur untuk menghilangkan penat dari kesibukan sehari-hari. Tawangmangu juga populer dengan produksi sayur dan buah-buahan segar. Sawah-sawah yang ditanami sawi, wortel, lobak, strawberry, dan aneka hasil bumi lainnya membentang dimana-mana.

 Photographer:  Arok Guetta


Kami juga mengunjungi sebuah air terjun setinggi 81 meter yang terletak di kawasan ini. Grojogan Sewu yang berarti "seribu air terjun", air terjun ini terletak di dalam sebuah kawasan hutan lindung seluas 20 ha. Area wisata ini juga dilengkapi dengan fasilitas flying fox, arung jeram kecil, duta playground dengan pemancingannya, dan arena outbond dengan taman lalu lintas dan kereta pohon. Tak hanya manusia, ribuan kera juga betah berlama-lama di sini. Mereka berkeliaran dengan bebas tanpa rasa takut pada manusia. Meskipun nampak jinak, namun kita harus tetap waspada karena sewaktu-waktu mereka bisa tiba-tiba mengambil tas ataupun barang bawaan lainnya.

Photographer:  Arok Guetta


Pedagang makanan dan minuman bertebaran di sekitar air terjun, siap menjadi tempat melepas lelah atau bersantai menikmati udara segar di bawah pepohonan rindang. Makanan yang paling terkenal adalah sate kelinci. Daging kelinci yang sedikit alot namun memiliki serat daging yang lembut dipadu dengan sambal kacang, irisan cabe dan bawang merah, disajikan bersama lontong. Menurut para ahli, selain rendah kolesterol daging kelinci juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Daging kelinci mengandung zat yang disebut senyawa kitotefin. Senyawa ini apabila digabungkan dengan senyawa lain seperti omega 3 dan 9 disinyalir bisa untuk menyembuhkan penyakit asma. Berdasarkan pengalaman beberapa orang, daging ini juga berkhasiat menurunkan kadar gula bagi para penderita diabetes, sementara otaknya berkhasiat sebagai penyubur kandungan wanita.

Photographer:  Arok Guetta

Pemandangan yang indah dan udara yang sejuk menjadikan tujuan utama bagi para pengunjung untuk berakhir pekan bersama keluarga. Selain Grojogan Sewu dikawasan Tawangmangu terdapat juga obyek wisata Balekambang, bumi perkemahan, villa dan restaurant yang semua itu adalah sarana dan fasilitas rekreasi keluarga yang benar-benar tak terlupakan. Ditambah dengan adanya tradisi upacara Dukhutan, Mondosiyo, Suryo Jawi menambah daya tarik tersendiri untuk diabadikan.

 Photographer:  Arok Guetta


Menurut cerita wayang Prabu Baladewa pada saat menjelang perang Baratayudha, disuruh Kresna untuk bertapa di Grojogansewu. Hal ini untuk menghindari Baladewa ikut bertempur di medan perang, sebab kesaktiaannya tanpa ada musuh yang sanggup menandingiya.

Photographer:  Arok Guetta


Di depan air terjun grojogan sewu terdapat sebuah jembatan yang disebut "kretek pegat". adapula yg menamai jembatan "pegat sih". nama itu diberikan berdasrkan pengalaman empirik, bahwa jembatan tersebut sering mengakibatkan pegatan atau perceraian. Pada hari2 tertentu saat petang datang sering terlihat seorang kakek melintas diantara kabut yang menyelimuti kretek pegat. Mereka percaya bahwa kakek itu adalah makhluk gaib andhahan (bawahan) penguasa lelembut di Grojogan Sewu. yakni Kyai Baladewa.


Di Tawangmangu ada juga air terjun Pringgodani, tempat bertapa Prabu Anom Gatotkaca anaknya Bima. Untuk menuju kesana melewati jalanan yang sempit dan terjal. Disini terdapat pertapaan yang juga ada sebuah kuburan yang konon merupakan kuburan Gatotkaca. Kuburan ini dikeramatkan dan banyak pejiarah yang datang. Diatasnya terdapat hutan Pringgosepi.

Jadwal Buka:
Senin - Minggu pk 08.00 - 16.00 WIB
Idul Fitri pk 06.00 - 18.00 WIB

Harga Tiket
Pengunjung domestik: Rp 13.000,00
Pengunjung manca negara: Rp 18.000,00
Pelajar: Rp 9.000,00

Sumber: www.yogyes.com

Minggu, 15 Juni 2014

KISAH SIKUNIR - DIENG DAN KEBUN TEH TAMBI - WONOSOBO

DIENG-WONOSOBO, Nama Gunung Sikunir mungkin belum sepopuler Gunung Merapi di Yogyakarta atau Gunung Bromo di Tengger. Satu dari sekian banyak gunung yang mengelilingi Dataran Tinggi Dieng ini memiliki ketinggian 2350 meter dpl. Ada dua cara untuk mencapai puncak Sikunir yang berjarak 8 km dari Dataran Tinggi Dieng. Pilihan pertama adalah trekking dimana kita harus mulai pada jam 3 dini hari. Kondisi fisik dan berbagai perlengkapan lain harus benar-benar dipersiapkan bila memilih cara trekking ini. Pilihan kedua adalah naik motor, baik motor sewaan ataupun menggunakan jasa ojek hingga ke desa Sembungan dan dilanjutkan dengan mendaki sejauh 800 meter. Dengan berbagai pertimbangan terutama alasan keselamatan, Kami memilih untuk naik ojek dan baru dilanjutkan dengan mendaki ke puncak Sikunir.


 Photografer: Yunii Dobek

Perjalanan dimulai jam setengah 5 pagi. Pilihan naik ojek ternyata tepat. Jalanan gelap gulita, tanpa ada satupun lampu jalan yang menerangi. Baru beberapa ratus meter, mendadak kabut turun menyelimuti. Jarak pandang yang hanya satu meter dan medan yang berkelok-kelok serta naik turun lengkap dengan lubang dan tanah becek di tengah jalan sungguh sangat berbahaya bila seseorang yang tidak hapal betul dengan medan sekitar mengendarai sepeda motor sendiri. Meskipun demikian, pada kesempatan lain jalur trekking mungkin layak juga untuk dicoba. Berjalan kaki sambil menghirup udara segar dan menikmati langit cerah bertabur ribuan bintang terdengar cukup menarik dan menantang. 

Jika anda menginap di Homestay sekitaran Dieng Plateau, untuk mencapai bukit sikunir ini ada harus berkendara sekitar 15- 20 menit. Kendaraan bisa diparkir di areal Telaga Cebong - Desa Sembungan yang merupakan titik awal pendakian ke sikunir, anda akan dikenakan biaya retribusi sebesar Rp. 5000.-


 Photografer: Yulis Imut

Bagi yang belum pernah naik bukit Sikunir sebelumnya, ada baiknya saat pendakian ditemani oleh Guide lokal mengingat jalur pendakian yang terjal dengan jurang pada sisinya. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah baju hangat serta lampu senter atau alat penerangan lain untuk menerangi jalan saat mendaki.Terletak di Desa Sembungan, di ketinggian 2.350 meter di atas permukaan laut, Bukit Sikunir tak pernah sepi dari kunjungan para wisatawan yang ingin melihat Panorama Terbitnya matahari berlatar belakang jernihnya langit pegunungan Dieng dan Gunung Sindoro.


Photografer: Yunii Dobek

Dari Desa Sembungan yang berada di ketinggian 2302 meter dpl, perjalanan dilanjutkan dengan mendaki jalan setapak licin yang diapit jurang dan hutan. Udara terasa sangat dingin, bahkan lebih dingin dari winter di Orange County California. Sepanjang pengalaman Kami ketika harus melalui musim dingin di akhir tahun 2008 dan awal 2009, suhu udara di Orange County tidak pernah lebih dingin dari 4 derajat Celcius. Kecuali suhu di daerah pegunungan seperti Big Bear yang selalu diselimuti salju saat winter tentunya. Saat mendaki Sikunir, winter jacket dan sarung tangan terasa belum cukup untuk melindungi tubuh dari dinginnya angin yang menggigit. Ditambah lagi dengan jalan mendaki yang serasa tak kunjung sampai. Nafas mulai tersengal dan jantung serasa hendak berhenti berdetak.


Photografer: Yunii Dobek

Menyaksikan peristiwa Terbitnya matahari diufuk timur lanskap alam Dieng yang mempesona dan Khas dengan udara dinginnya tentu akan menjadi peristiwa yang memorable bagi para pengunjung. Itulah mengapa, mereka yang pernah berkunjung ke Sikunir sering ketagihan untuk berkunjung kembali di lain waktu.


 Photografer: Yunii Dobek

Ketika sudah hampir putus asa, jalan tiba-tiba melandai. Wah, akhirnya berhasil juga sampai ke puncak. Pemandangan yang terhampar di depan sungguh sangat menakjubkan. Lembah yang masih gelap nun jauh di bawah sana nampak berkelap-kelip dengan lampu-lampu yang menyala di desa-desa kecil yang tersebar diantaranya. Gunung 


  Photografer: Yunii Dobek

Photografer: Yunii Dobek

Sindoro berdiri kokoh di depan mata. Hamparan awan dan kabut di bawah kami memberikan kesan bahwa kami benar-benar berada di negeri di atas awan. Bentangan langit cerah dengan ribuan bintang semakin menambah keindahan suasana. Bila cuaca cerah, dari puncak Sikunir ini akan terlihat Gunung Sindoro, Sumbing, Merbabu, Merapi dan Ungaran. 


 Photografer: Someone

Seorang teman bercanda dan mengatakan bahwa dia merasa seperti seorang dewa, berada di istananya yang tinggi menanti bangunnya sang mentari. Semburat jingga mulai terlihat di ufuk timur, menampilkan keindahan siluet Sindoro yang disusul dengan bayangan Gunung Merbabu, Sumbing, Ungaran, dan Merapi yang nampak mungil dengan kepulan asap tipisnya. Penat kaki akibat mendaki dan sakitnya dada yang tersengal-sengal langsung sirna...


 Photografer: Someone

 Photografer: Someone


 Photografer: Someone

MEMETIK TEH DI DESA TAMBI-WONOSOBO

TAMBI-WONOSOBO, Selain pesona alamnya yang sejuk, paket wisata yang banyak digemari para wisatawan yakni proses pembuatan teh. Dengan paket wisata ini, wisatawan akan benar-benar tahu bagaimana produksi teh dari pemetikan di perkebunan hingga menyeruput dari cangkir. Tapi kami hanya mampir berfoto ria bersama bidadari-bidadari cantik.

  Photografer: Indah imoet

Sampai di perkebunan, sekitar pukul 08.00 WIB, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang eksotis berupa hamparan hijau teh berembun di Lereng Gunung Sindoro. jika kalian menggunakan jasa pemandu, kalian akan mendapatkan pengalaman tersendiri. Yaitu menariknya wisatawan tidak hanya menonton. Namun bisa terlibat ikut memetik teh sekaligus mendapatkan penjelasan bagaimana cara memilah teh yang sudah siap untuk di produksi.

 Photografer: Indah imoet

SEKEDAR INFO, Setelah memetik teh, perjalanan selanjutkan melihat proses pembuatan teh. Wisatawan akan diajak masuk ke Pabrik produksi. Oleh pemandu wisata dijelaskan bagaimana proses pembuatan teh, setelah di petik teh kemudian dilakukan proses pelayuan menggunakan alat pemanas, setelah itu lembaran daun teh tersebut dimasukan pada tempat penggilingan dilebur menggunakan mesin, hasilnya teh yang sebelumnya berupa daun, sudah berubah menjadi keping kecil-kecil. Pengolahan kemudian masuk tahap Fermentasi. “ Melalui proses Fermentasi ini, teh akan berubah yang sebelumnya hijau, akan berubah hitam. Ini yang merupakan Teh Khas yang dimiliki Tambi,”jelas pemandu.

Proses pembuatan teh belum selesai. Setelah Fermentasi, teh dilakukan pengeringan cukup lama, kemudian masuk pada proses penjenisan. Di sinilah proses yang ditunggu, sebab wisatawan bisa mengenali beragam jenis dan kelas teh yang di produksi PT Tambi. “ Teh yang dipetik dari perkebunan Tambi mempunyai 17 jenis rasa yang terbagi dalam 3 Grade,”kata Pemandu lagi.

Setelah penjenisan, ternyata proses belum selesai. Sebelum dikemas dan dikirim ke pasar Domestik dan Manca Negara. Teh hasil produksi dilakukan uji kualitas oleh pegawai khusus yang mengenali Taste Teh. Setelah memenuhi standar kaulitas, Teh kemudian dipasarkan hingga disajikan dalam teko dan cangkir menemani udara pagi.
“ Orang yang melakukan tes rasa ini khusus, saat ini ada tiga orang yang benar-benar secara detail mengenali rasa teh,” tambah pemandu.harga hotel dieng.

Sabtu, 24 Mei 2014

PUNCAK PESONA GUNUNG PRAU 2.565 MDPL

Gunung Prahu adalah sebuah gunung yang terdapat di Dataran Tinggi Dieng tepat di perbatasanKabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Berada di koordinat 7°11′13″LU109°55′22″BT.

Gunung Prau atau Prahu memang pendek, kadang hanya dilirik sebelah mata oleh pendaki Indonesia, tapi coba rasakan sensasi dalam pelukannya, gunung yang terkenal dengan sebutan Gunung Seribu Bukit.

Hanya memiliki ketinggian 2.565 mdpl, memang tergolong pendek dan juga tidak terkenal seperti gunung2 disekitarnya, ada Sindoro,Sumbing, Slamet, Unggaran, dll. Tapi gunung ini memiliki pesona tersendiri yang tidak kalah dengan gunung2 yang lebih terkenal dikalangan pendaki Indonesia.

Karena bentuk gunung ini memanjang, jadi secara administratif Gunung Prau yang berada di Dataran Tinggi Dieng ini meliputi wilayah Kab. Banjarnegara, Kab. Wonosobo, Kab. Batang dan Kab. Kendal. Di Campa reannya pun terdapat patok batas wilayahnya.

photografer: Aroks

Gunung ini dapat ditempuh melalui beberapa Jalur Alternatif Pendakian. Lewat Jalur utara, bisa melalui Kabupaten Kendal, Semisal dari Desa Kenjuran yang berada di Kecamatan Sukoreja. Jarak tempuh perjalanan kurang lebih 6 Jam.

Alternatif lain jalur pendakian bisa dilakukan melalui Jalur selatan, yaitu lewat Dataran Tinggi Dieng atau Desa Patak Banteng. Jalur ini relatif lebih singkat, hanya sekitar 2-3 Jam perjalanan yang jalurnya lumayan terjal.

Track log diatas adalah hasil tracking dari awal start pendakian sampai turun. Untuk lebih jelasnya lihat dibawah mengenai waypoint-waypoint yang terdapat pada track log diatas.

POS II

photografer: aroks
photografer: aroks

Kira-kira jika kita berjalan 1 jam yang tidak ada bonusnya, sampailah di Pos II, kondisi pos tidak terdapat bangunan berupa shelter ataupun pondokan.

POS III
 photografer: aroks

photografer: aroks

Tidak jauh dari Pos II sampailah di Pos III, kondisi sama seperti Pos II, tidak terdapat bangunan. Dari Pos III ke camp Area sudah tidak jauh lagi dan jalurnya semakin terjal, lumayan buat menguras tenaga yang kurang tidur nih. 

CAMP AREA GUNUNG PRAU
Pemandangan Sekitar Camp dari pagi, sore dan malam hari.

 photografer: aroks (Bukit Teletubis di siang hari)

 photografer: aroks (Gunung Sumbing di siang hari)

 photografer: aroks (Sekitar Camp di sore hari)

 photografer: aroks (Sekitar Camp di siang hari)

 photografer: aroks (Sekitar Camp di malam hari)

 photografer: aroks (Bukit Teletubis di siang hari)

 photografer: aroks (Pemandangan Sekitar Camp di sore hari)

 photografer: aroks (Bukit Teletubis di siang hari)

photografer: aroks (Bukit Teletubis di siang hari)

 photografer: Someone (Ini Foto Kami bersama)

 photografer: RJ

photografer: Hasan

 photografer: Wawan

photografer: Wawan

 CAMP AREA GUNUNG PRAU


Saya menyebutnya demikian, karena tempat inilah tujuan utama para pendaki, dari camp area ini kita dapat melihat tanpa halangan (kalo ga ada kabut) Gunung Sindoro Sumbing di depan mata, dan dikejauhan Gunung Merapi & Merbabu.

photografer: Wawan

photografer: Wawan

AREA PADANG SABANA & BUKIT TELETUBIES

Setelah puas berfoto-foto, kemudian perjalanan turun. Jalur turun tidak melewati jalur naek, tapi melewati Padang Sabana, Bukit Teletubies, Menara Repeater dan berakhir di Desa Dieng Kulon.

photografer: Ridho

photografer: Wawan

photografer: Wawan
TELAGA WARNA

 photografer: aroks

photografer: aroks

Detil Perjalanan :

Berangkat dari Yogyakarta naik motor bersama-sama berangkat sekitar jam 11.00am, sampai di Wonosobo sekitar jam 04.00pm. Menuju Bescamp untuk belanja, istirahat sejenak dan belanja kekurangan logistik, jam 07.00pm berangkat menuju puncak dan sam,pai di puncak Gunung Prau jam 11.00pm.

Waktu diatas sesuai dari track log GPS yang saya pakai.
Tidak ada sumber air disepanjang jalur dan juga di camp area.

Yang mau track log GPS nya silakan diunduh disini :