KISAH YANG TERPENDAM DALAM TANAH YANG HIJAU
Foto: Agus Suryono
Setelah terkubur
selama ratusan tahun, bongkahan pertama ditemukan pada tahun 1966. Memerlukan
waktu 21 tahun untuk menggali dan merangkai ratusan keping "puzzle"
dari batu itu sebelum akhirnya Candi Sambisari berhasil
direkonstruksi. Tak ada perasaan aneh yang menghinggapi Karyowinangun pada
sebuah pagi di tahun 1966. Tapi sebuah kejadian langka dialaminya di sawah kala
itu, ketika sedang mengayunkan cangkulnya ke tanah. Cangkul yang diayunkan ke
tanah membentur sebuah batu besar yang setelah dilihat memiliki pahatan pada
permukaannya. Karyowinangun dan warga sekitar pun merasa heran dengan
keberadaan bongkahan batu itu. Dinas kepurbakalaan yang mengetahui adanya
temuan itu pun segera datang dan selanjutnya menetapkan areal sawah
Karyowinangun sebagai suaka purbakala.
Foto: Agus Suryono
Batu berpahat yang
ditemukan itu diduga merupakan bagian dari candi yang mungkin terkubur di bawah
areal sawah. Penggalian akhirnya dilakukan hingga menemukan ratusan bongkahan
batu lain beserta arca-arca kuno. Dan benar, batu-batu itu memang merupakan komponen
sebuah candi. Selang 21 tahun sesudahnya, keindahan candi akhirnya bisa
dinikmati. Bangunan candi yang dinamai Sambisari itu berdiri megah di Dusun
Sambisari, Kelurahan Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, 10 kilometer dari
pusat kota Yogyakarta. Anda bisa menjangkau dengan berkendara melewati lintas
jalan Yogya-Solo hingga menemukan papan penunjuk menuju candi ini. Selanjutnya,
anda tinggal berbelok ke kiri mengikuti alur jalan.
Foto: Agus Suryono
Saya sempat kaget
ketika sampai di areal candi. Saat mengarahkan pandangan ke tengah areal candi,
hanya tampak susunan batu atap yang seolah hanya bertinggi beberapa meter di
atas tanah. Saya bertanya-tanya, apa benar Candi Sambisari hanya sekecil itu?
Setelah mendekat, barulah kami mendapat jawabannya. Ternyata, Candi Sambisari
berada 6,5 meter lebih rendah dari wilayah sekitarnya.
Foto: Agus Suryono
Candi Sambisari
diperkirakan dibangun antara tahun 812 - 838 M, kemungkinan pada masa
pemerintahan Rakai Garung. Kompleks candi terdiri dari 1 buah candi induk dan 3
buah candi pendamping. Terdapat 2 pagar yang mengelilingi kompleks candi, satu
pagar telah dipugar sempurna, sementara satu pagar lainnya hanya ditampakkan
sedikit di sebelah timur candi. Masih sebagai pembatas, terdapat 8 buah lingga
patok yang tersebar di setiap arah mata angin.
Foto: Agus Suryono
Bangunan candi induk
cukup unik karena tidak mempunyai alas seperti candi di Jawa lainnya. Kaki
candi sekaligus berfungsi sebagai alas sehingga sejajar dengan tanah. Bagian
kaki candi dibiarkan polos, tanpa relief atau hiasan apapun. Beragam hiasan
yang umumnya berupa simbar baru dijumpai pada bagian tubuh hingga puncak candi
bagian luar. Hiasan itu sekilas seperti motif-motif batik.
Menaiki tangga pintu
masuk candi induk, anda bisa menjumpai hiasan berupa seekor singa yang berada
dalam mulut makara (hewan ajaib dalam mitologi Hindu) yang
menganga. Figur makara di Sambisari dan merupakan evolusi dari
bentuk makara di India yang bisa berupa perpaduan gajah dengan
ikan atau buaya dengan ekor yang membengkok.
Selasar selebar 1
meter akan dijumpai setelah melewati anak tangga terakhir pintu masuk candi
induk. Mengelilinginya, anda akan menjumpai 3 relung yang masing-masing berisi
sebuah arca. Di sisi utara, terdapat arca Dewi Durga (isteri Dewa Siwa) dengan
8 tangan yang masing-masing menggenggam senjata. Sementara di sisi timur
terdapat Arca Ganesha (anak Dewi Durga). Di sisi selatan, terdapat arca Agastya
dengan aksamala (tasbih) yang dikalungkan di lehernya.
Memasuki bilik utama
candi induk, bisa dilihat lingga dan yoni berukuran cukup besar, kira-kira 1,5
meter. Keberadaannya menunjukkan bahwa candi ini dibangun sebagai tempat
pemujaan Dewa Siwa. Lingga dan yoni di bilik candi induk ini juga dipakai untuk
membuat air suci. Biasanya, air diguyurkan pada lingga dan dibiarkan mengalir
melewati parit kecil pada yoni, kemudian ditampung dalam sebuah wadah.
Keluar dari candi
induk dan menuju ke barat, anda bisa melihat ketiga candi perwara (pendamping)
yang menghadap ke arah berlawanan. Ada dugaan bahwa candi perwara ini
sengaja dibangun tanpa atap sebab ketika penggalian tak ditemukan batu-batu
bagian atap. Bagian dalam candi perwaratengah memiliki lapik bujur
sangkar yang berhias naga dan padmasana (bunga teratai)
berbentuk bulat cembung di atasnya. Kemungkinan, padmasana dan
lapik dipakai sebagai tempat arca atau sesajen.
Bila telah puas
menikmati keindahan candi, anda bisa menuju ke ruang informasi. Beberapa foto
yang menggambarkan lingkungan sawah Karyowinangun sebelum digali dan kondisi
awal candi ketika ditemukan bisa ditemui. Ada pula foto-foto tentang proses
penggalian dan rekonstruksi candi yang berjalan puluhan tahun, termasuk foto
benda-benda lain yang ditemukan selama penggalian, berupa arca dari perunggu
yang kini disimpan di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala.
Keindahan Candi
Sambisari yang kini bisa kita nikmati merupakan hasil kerja keras para arkeolog
selama 21 tahun. Candi yang semula mirip puzzle raksasa,
sepotong demi sepotong disusun kembali demi lestarinya satu lagi warisan
kebudayaan agung di masa silam.
Naskah: Agus Suryono, S.Pd.T.
Photo & Artistik: Agus Suryono dan Kinanti Niagara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar